Postingan

Enchanted

I was enchanted to meet you, boy. Soda sore ini benar-benar membuat hidungku terasa ingin meledak. Seperti perasaan ini, meluap-luap saat menemukan, haha terdengar berlebihan memang. Aku ingat saat pertama kali "iseng" malam itu menjadikan aku dan kamu seperti ini. Entah aku harus berfikir dua kali atau benar-benar mengiyakan, kamu. Anak laki-laki yang jelas lebih muda 5bulan daripada aku. Manis, menantang untuk ditawan yang jelas hahahaha. Selalu ada sisi yang ingin aku buang dari diri seseorang, termasuk dari dirimu. Tidak pandang bulu untuk berbaik hati pada setiap perempuan, menyedihkan saat tau tidak hanya kamu untuknya. Dingin, terkadang aku lebih memilih diam tak ada komunikasi antara aku dan kamu jika hanya mendapat sambutan dingin yang terkadang justru menghangatkan.. haha labil. Kamu tau? selalu ada rindu untukmu, dan karena itu tetap berkomunikasi adalah bagian wajib untuk tetap dijalankan walaupun sedingin menggenggam es.  Cinta itu apa-adanya bukan ada a...

Cinta Itu Tidak Bodoh

"Cinta adalah ketika kamu tetap bertahan saat merasa tersakiti" Malam yang menyendu, desiran angin mengangkat setiap bulu kuduk yang tertata rapi, searah. Mencuri pandang pada layar ponsel, siapa tau ada pesan darimu. Walau hanya dalam bentuk bukan siapa-siapa . Selalu ada rahasia dibalik senyum dengan kerutan dibagian samping mata sejak kejadian siang tadi. You're a liar . Pikirku melayang, menerawang ke segala hal yang mungkin bisa terjadi setaip saat, tanpa aba-aba .  Aku ingin bertahan, bukan dalam dustamu. Aku ingin bertahan, bukan dalam senyum dengan kerut ini. Aku ingin bertahan, tanpa air mata. Aku ingin bertahan, aku ingin. Bagaimana denganmu ? Aku ingin pergi, tanpa hatimu. Aku ingin pergi, bersama hatiku. Aku ingin pergi, dengan senyum bahagia. Aku ingin pergi, bersama pangeran mimpi ini. Bagaimana cinta bisa menjelaskan semua kejadian hari ini? Bagaimana cinta bisa menemani setaip tetes air mata siang ini? Bagaimana cinta bisa meyakinkan bertaha...

untitle

Lembaran sapaan yang sudah menumpuk dan mulai usang. Tidak disetorkan juga pada si penagih? mm..mungkin bukan penagih, lebih tepatnya pembuang. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk merawat para lembar ini, untuk menjaga agar tetap hangat dengan setiap rindu disetiap kata didalamnya. Sudah terlalu banyak kejadian yang kulupakan, padahal ingin ku ceritakan. Sudah terlalu lama berdiam dalam rindu tanpa helaan rindumu.  Lagu aliran apa yang sedang kamu putar berkali-kali tanpa bosan sebelum kamu menemukan lagu lain? Kegiatan apa yang membuat mataku tak bisa mendapati sosokmu lagi? Andai, mata ini bisa berbinar lagi seperti saat melihatmu. Andai, merindumu masih se-halal dulu. Bagaimana jika aku menghalalkan 'sendiri' ? Terdengar licik, namun jika bisa.... aku akan berdosa. Kamu lebih dari kafein didalam kopi yang selalu kunikmati di pagi hari. Kamu candu yang memenuhi rongga dada ini, memenuhi pikiranku dengan sosokmu yang tak mampu kudapati dengan mataku...

After Goodbyes there are new Hellos waiting

I had my moments in life and the worst part about them was making hard decisions. You know the feeling when something ended long time ago but you kept pretending it was still exsiting? Day after day everything was getting worse and the worst part was you trying, not them. You lost yourself but before you realized, it was too late to help yourself.  So what you did?  You let the old yourself die.  When something ends something else begins. I don’t regret saying Goodbye to people once I called my friends. In process of changing we fell apart and we couldn’t fix it.  This was the saddest moment.  Now I am waiting for better times

Cinta Akan Tersenyum Diam-diam, Disana..

Aku masih bisa menatap mata belo itu dengan mata minus ini, mata yang sudah lama kukenal, bahkan pernah menjadi mata yang paling indah. Berada disatu ruangan yang sama, melihat ke arah yang sama, tapi ekor mataku selalu menangkapmu dalam diam. Laki-laki berkulit putih, dengan postur tubuh yang cukup tinggi, poni yang sudah panjang, masih sama seperti dulu saat pertama kali aku menjumpaimu. Jatuh cinta pada sosok yang belum pernah kutemui sebelumnya, aneh. Aku ingat, saat itu aku yang mencarimu bukan kamu yang mencari aku.  Sore itu keringat mengucur deras dari sela-sela ponimu. Seperti berlomba-lomba untuk jatuh kepipi yang tidak terlalu berisi itu. Suara nyaring, teman-temanmu yang tertawa bersamamu. Masih terekam jelas dipikiranku. Kita tidak bicara, tapi mata kita saling menatap penuh arti mampu melunakkan suasana yang kaku karna rasa malu. sampai.. tangan kita saling merapat, mengisi ruas-ruas jemari ini yang sebelumnya kosong tak terisi. dibawah pohon rindang dengan a...

Pilihan

Mengapa memilih tidak pernah sesederhana dipilih? Jangan salahkan hujan lagi karna turun disaat yang tidak tepat, membawa suasana semakin sendu. Bersama iring-iringan lagu bernada lembut, dan juga suara ujung jari dan keyboard yang mengetik kata-kata cinta penuh keraguan.  Dihadapkan dua pilihan, pilihan yang sudah terjadi sejak 8 bulan yang lalu, ya 2012. Aku masih ingat betul bagaimana semua ini berawal, dasar. Menggelikan namun tidak ada sedikitpun kepantasan untuk ditertawakan.  "Bodoh, memilih saja tidak pernah benar." pekikku dalam hati bodoh memang, merangkai kata saja aku masih merasa ragu. Ini kedua kalinya aku harus memilih, kedua kalinya. Menyebalkan, kenapa tidak diri kalian sendiri yang memilih? pertanyaan yang mungkin akan dijawab dengan  "Ini filmmu, kamu sutradaranya, kamu penulis skenarionya, kamu pemeran utamanya, kamu juga yang harus memilih tidakan untuk kelangsungan filmmu sendiri" Sampai saat ini, kalimat pernyataan yang ...
tik..tik..tik Suara rintikan hujan yang datang memburu membawa setiap inchi film yang pernah ada. ya, termasuk membawamu kembali, meski hanya dalam bentuk bayang masa lalu. Hangat dekap masal lalu, lagi-lagi. Aku benci dengan perasaan seperti ini. Tidak karuan walaupun aku berusaha membuat teratur. menahan senyum kecil dibibir tidak semudah apa yang dibayangkan. Memutar setiap detail saat-saat kamu membuat lelucon. Siapa yang tahu senyum kecil ini menjadi tangis hanya karna kau mengingat satu kenyataan. tik..tik..tik Sosok yang tak kutemui lagi, tak kusapa meski aku menatap tajam. Sepi, sepi yang kian membuat banyak debu disetiap sudut ruang, rasanya sesak. Melihat senyummu yang sederhana tapi membahagiakan, bukan karnaku atau karna kita, pahit. Mendengar suara nyaring itu, tak akan merusak tapi akan menjadi sangat menyakitkan ketika "sayang" itu bukan arahku lagi.  menyakitkan ketika kamu bukan menjadi alasan lagi bagi dia, sesederhana itukah merasa tersaki...