Postingan

After Goodbyes there are new Hellos waiting

I had my moments in life and the worst part about them was making hard decisions. You know the feeling when something ended long time ago but you kept pretending it was still exsiting? Day after day everything was getting worse and the worst part was you trying, not them. You lost yourself but before you realized, it was too late to help yourself.  So what you did?  You let the old yourself die.  When something ends something else begins. I don’t regret saying Goodbye to people once I called my friends. In process of changing we fell apart and we couldn’t fix it.  This was the saddest moment.  Now I am waiting for better times

Cinta Akan Tersenyum Diam-diam, Disana..

Aku masih bisa menatap mata belo itu dengan mata minus ini, mata yang sudah lama kukenal, bahkan pernah menjadi mata yang paling indah. Berada disatu ruangan yang sama, melihat ke arah yang sama, tapi ekor mataku selalu menangkapmu dalam diam. Laki-laki berkulit putih, dengan postur tubuh yang cukup tinggi, poni yang sudah panjang, masih sama seperti dulu saat pertama kali aku menjumpaimu. Jatuh cinta pada sosok yang belum pernah kutemui sebelumnya, aneh. Aku ingat, saat itu aku yang mencarimu bukan kamu yang mencari aku.  Sore itu keringat mengucur deras dari sela-sela ponimu. Seperti berlomba-lomba untuk jatuh kepipi yang tidak terlalu berisi itu. Suara nyaring, teman-temanmu yang tertawa bersamamu. Masih terekam jelas dipikiranku. Kita tidak bicara, tapi mata kita saling menatap penuh arti mampu melunakkan suasana yang kaku karna rasa malu. sampai.. tangan kita saling merapat, mengisi ruas-ruas jemari ini yang sebelumnya kosong tak terisi. dibawah pohon rindang dengan a...

Pilihan

Mengapa memilih tidak pernah sesederhana dipilih? Jangan salahkan hujan lagi karna turun disaat yang tidak tepat, membawa suasana semakin sendu. Bersama iring-iringan lagu bernada lembut, dan juga suara ujung jari dan keyboard yang mengetik kata-kata cinta penuh keraguan.  Dihadapkan dua pilihan, pilihan yang sudah terjadi sejak 8 bulan yang lalu, ya 2012. Aku masih ingat betul bagaimana semua ini berawal, dasar. Menggelikan namun tidak ada sedikitpun kepantasan untuk ditertawakan.  "Bodoh, memilih saja tidak pernah benar." pekikku dalam hati bodoh memang, merangkai kata saja aku masih merasa ragu. Ini kedua kalinya aku harus memilih, kedua kalinya. Menyebalkan, kenapa tidak diri kalian sendiri yang memilih? pertanyaan yang mungkin akan dijawab dengan  "Ini filmmu, kamu sutradaranya, kamu penulis skenarionya, kamu pemeran utamanya, kamu juga yang harus memilih tidakan untuk kelangsungan filmmu sendiri" Sampai saat ini, kalimat pernyataan yang ...
tik..tik..tik Suara rintikan hujan yang datang memburu membawa setiap inchi film yang pernah ada. ya, termasuk membawamu kembali, meski hanya dalam bentuk bayang masa lalu. Hangat dekap masal lalu, lagi-lagi. Aku benci dengan perasaan seperti ini. Tidak karuan walaupun aku berusaha membuat teratur. menahan senyum kecil dibibir tidak semudah apa yang dibayangkan. Memutar setiap detail saat-saat kamu membuat lelucon. Siapa yang tahu senyum kecil ini menjadi tangis hanya karna kau mengingat satu kenyataan. tik..tik..tik Sosok yang tak kutemui lagi, tak kusapa meski aku menatap tajam. Sepi, sepi yang kian membuat banyak debu disetiap sudut ruang, rasanya sesak. Melihat senyummu yang sederhana tapi membahagiakan, bukan karnaku atau karna kita, pahit. Mendengar suara nyaring itu, tak akan merusak tapi akan menjadi sangat menyakitkan ketika "sayang" itu bukan arahku lagi.  menyakitkan ketika kamu bukan menjadi alasan lagi bagi dia, sesederhana itukah merasa tersaki...

Untitled

I remember all those late night conversations, and on my worst days I miss you. It hits me at the most random times, like when I walk out of the house in the morning, or when I see a jeep, or when the midnight air creeps through my window . I said, and I can't help but be mad at myself for pushing you away.

Senja Berselimut Hujan

Senja yang menyedihkan sekaligus romantis. Hujan memberikan taburan romantisme disetiap tetesnya, tapi senja memberikan sedikit kesedihan, kesedihan karna artinya libur hari Sabtu tinggal beberapa jam lagi. Sudahlah, memang bukan jatahku bersantai lebih lama.  Akhir-akhir ini senja di akhir November selalu berselimut hujan, bagaimana keadaanmu? Jangan berselimut hujan, rasanya akan sangat menusuk walau sesekali melegakan. Hujan di senja yang pilu ini, lagi-lagi mendongeng sebuah cerita cinta yang romantis. Tentang kamu dan dia? atau tentang kita? atau tentang mereka? entahlah.  Aku hanya diam dan terus melihat tetesan hujan yang nantinya akan menjadi genangan air yang becek, mereka seperti tidak mempunyai muara.Ke sungai? Kembali kelaut? dan kembali lagi menjadi uap? lalu awan? lalu menjadi awan mendung? lalu menjadi hujan? lalu menjadi genangan becek lagi? apa begitu seterusnya?. Jika iya, katakan cinta ini seperti siklus hujan.  Selimut ini masih mengambang ...

Mengapa Hujan?

Mengapa hujan? Kamu pernah bilang "Tampakkan wajahmu saat hujan deras, rasakan sensasi dari baunya" Benar saja, aku mempraktekkan. Sensasi yang begitu hebat, muncul dari setiap anak tulangku. Dingin namun mendamaikan. Mengapa hujan? Kamu pernah mempraktekan menembus hujan, membiarkan tulangmu mengilu biru. Kamu bilang hujan bercerita banyak tentangku padamu "Mereka bilang kamu imut banget, kata mereka juga kita pasangan yang cocok" aku menatap heran ke matamu "percaya deh sama aku"  Mengapa hujan? Mengapa hujan? Mengapa kamu? Mengapa kamu? Iya, kamu hanya pernah bilang. Meninggalkan secercah harapan, begitu saja. Kamu yang pergi begitu saja, mengapa kamu membuat aku cinta pada hujan? Aku membersihkan jalanan kota, tempat dimana kamu dulu mempraktekan aksi menembus hujan. Membersihkan untuk mencari-cari lagi sisa harapanmu, yang seharusnya tidak aku harapkan lagi. Mengapa hujan? Kamu sengaja ya? Sengaja meminta hujan agar datang saat kamu pergi,...