Postingan

Dia sedang Merindu

Hujan sore ini terlalu lama, membawa angin pesakitan bagi jiwa yang menyepi, menepi sendiri. Langit yang abu, awan hitam, menghalangi romantika senja sore ini untuk berpulang ke surga. Menjamah lelah menjadi gundah. Mengelabui malam, menjadi malam tak berbintang. Sialnya, aku selalu menunggu hujan, meski semesta tak seindah biasanya. Hujan selalu mampu membawaku untuk kembali pulang, pada kehangatan rumah yang terindukan oleh diri. Hujan selalu membawaku dalam dingin tak berarti, karena tak mampu berpulang pada peluknya. Bukan dia, bukan dia yang aku rindukan, namun hangat peluknya. Hangat yang justru memaksaku untuk melangkah lebih jauh, agar tidak ada yang tersakiti. Agar tidak ada kemenangan atas ego masing-masing. Bahagiaku bukan lagi prioritasmu, bahagiamu masih ku jaga dalam doa, agar Tuhan mengerti betapa hati ini ingin menjauh karna inginku agar kau bahagia, meski bukan dalam hangatku. Agar Tuhan mengerti bagaimana doa ini selalu terpanjatkan, messki dia telah bahagia send...
Garis mana lagi yang tak Kau luruskan, hingga aku harus menyadari garis itu sendiri. Takdir mana lagi yang tak Kau ijinkan berubah, hingga aku hanya mampu berdoa dan berpasrah. Kau buat seakan tak berujung, seakan tak berpintu, seakan aku terjebak. Takut, aku menjadi dingin, lebih dingin daripada hati yang pernah remuk berkeping-keping. Takut, aku menjadi rentan, lebih rentan daripada daun yang tertiup angin. Takut, aku menjadi penikmat rasa sakit, hingga aku lupa aku harus bahagia.  Berkali-kali dihantam oleh cambuk dunia, melawan sama artinya dengan mengambil resiko yang mungkin kau sendiri tidak tahu, berapa lama luka cambukmu akan paling tidak membaik.  Berkali-kali dipaksa menelan pahit kenyataan, yang terasa menjijikan hingga kau lupa bagaimana pahit dan menjijikan menjadi hal yang menyebalkan, sampai terasa hambar. Berkali-kali dibiarkan mendingin bersama hati yang kecewa, hingga rasa ingin bahagiamu hilang karena berharap hanya berpulang pada kecewa. Mungk...

Duka Suka

Tuhan menuliskan, menggariskan, melukiskan, menggambarkan, me- untuk setiap kata kerja yang tak bisa kau tolak ataupun kau paksakan. Setiap takdir yang harus kau ridhai dengan ikhlas, kau jalani setiap langkah demi langkah dengan pijakan yang tertopang oleh sabarmu. Karena pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk senang, luka, sabar, lalu bahagia..  Untuk setiap suka, yang menjadikannya melupa.. Mungkin aku yang terlalu melangkah jauh dari Tuhan, sehingga melupa untuk merasa cukup.  Untuk setiap duka, yang menjadikannya tak berharga diri lagi.. Harga diriku dihadapan Tuhan seakan tak ada lagi, akulah pengemis kemurahan hati Tuhan. Untuk setiap ikhlass, yang menjadikannya dewasa. Dipaksa menjadi dewasa, dipaksa mengerti arti benar dan salah. Dalam sabar yang merindukan kelapangan dada. Untuk setiap senang, luka, sabar, yang menjadikannya bahagia.. Bahagia bukan lagi tentang aku yang memilikimu, atau aku yang menjadi hampir tak memiliki kekurangan. Baha...

Pelaku

Aku mencari jalanku pulang, iya aku pencari.  Aku menikmati setiap jalan yang ku lewati, iya aku penikmat.  Aku memahami setiap ucapan mereka, sayangnya aku bukan pemaham yang baik. Aku melakukan semua hal sesuai kendali mereka, tapi aku bukanlah pelaku, pelaku yang selalu didambakan oleh diri sendiri. Mungkin, justru aku membenci diriku sendiri, karena menjadi pelaku atas kemauan oranglain. Tak dapat aku hindari setiap kata yang mereka lontarkan, sekalipun aku telah meminimalkan segala frekuensi dalam diri. Entah bentuk suara, ataupun sikap. Mungkin tindakan ini justru membawaku dalam hati yang dingin, tak lagi percaya, takut bersikap. Sendiri adalah pilihan, yang diharuskan. Bersama oranglain justru hanya akan memperburuk keadaan, keadaan yang aku sendiri tak mampu mengendalikan, padahal aku pelaku. Aku akan berusaha menjadi, pencari yang tahu diri dengan penuh kenikmatan. Menjadi yang mereka ingini adalah tujuanku. Menjadi apa yang oranglain ingini adalah kebutu...

Bahagia

Aku adalah penikmat kopi di malam hari, yang hangat terseduh meski tak tersentuh. Aku adalah peracik kata-kata, menjadi satu bagian indah meski tak kau indahkan. Tapi.. aku bukanlah penikmat ataupun peracik kata bahagia , yang justru melupa ketika dinikmati, dan merumit ketika teracik.  Katamu, bahagia itu sederhana , kau rasa meski tak kau miliki. Kau lihat meski tersakiti, Jadi, apakah arti bahagia sebenarnya adalah, tersakiti? yang dikemas dengan indah menjadi sesuatu yang disebut bahagia .  Katamu, bahagia itu tersurat bukan tersirat . Bagaimana bisa kau membuktikan itu bahagia, ketika wajahmu tak menyiratkan? Bahagia yang tersiratlah yang selalu tersurat. Mungkin, bahagia tak harus selalu sederhana, karena proses  menuju ke-luar biasaanlah yang tak akan menghianati tersiratnya bahagia.  Kan, ku cari apa yang menjadi bahagiaku, Kan, ku siratkan bahagiaku, Karena, proses tak pernah menghianati hasil.

Untuk Wanita Dalam Doa

Untuk wanita yang sedang menikmati malamnya, sebagai wanita yang terlelap dalam lelah.. Hari menjadi terlalu sempit untukmu, memaksamu untuk bergerak cepat dan gesit. Sesekali harus menaikan nada agar mendapat bantuan. Pagimu habis dengan kalimat "Lapar" tanpa "Terimakasih" . Siangmu terik, membuat keringat itu meluncur bebas di wajah yang sedikit demi sedikit termakan oleh usia. Senjamu menjadi sangat cepat, istirahatmu bagai suatu tambahan, bukan lagi kebutuhan. Malammu sungguh melelahkan, meski tanpa "Terimakasih"  Untuk wanita yang merindu, sebagai penyendiri kala malam.. Sebagai wanita yang merangkap dua peran, saat laki-lakimu mempertanggung jawabkan perannya sendiri. Kau di rumah, dimana peran itu kau jalankan sekaligus. Tak sedikitpun lelah tersirat di wajahmu, namun wajahmu selalu menyiratkan kerinduan, rindu akan kehangatan berdua. Keyakinanmu besar, percayamu hebat, mengucap sabar untuk diri sendiri. Untuk wanita yang tak kenal ...

Dari Hujan untuk Butirannya.

"Rencana Tuhan pasti lebih indah" Aku percaya, takdir oleh Tuhan pasti akan lebih indah daripada apa yang terbayangkan, karena akan selalu bermuara pada bahagia. Meski harus melalui jalan cerita yang keras atau deras atau malah tenang, iya aku percaya. Kita ini seperti butiran air hujan yang jatuh ke permukaan bumi, jatuh secara bersamaan, menjadi butiran yang berbeda, entah mengalir, meresap, terperangkap, atau masih mengudara, dan mengalir ke aliran yang berbeda antara kamu dan aku. Sudah sewajarnya butiran air itu mengalir, dan bertemu di satu muara yang sama. Entah butiran itu sudah melewati aliran yang deras ataupun tenang entah itu perjalananmu atau malah itu perjalananku. Mungkin sudah membeku di kutub yang berbeda antara kamu dan aku. Atau malah sudah menguap lagi. Menjadi cerita baru yang lebih indah. Bukankah, kita pernah berfikir akan dalam satu aliran dalam tenang, tetapi kita salah, ternyata lagi-lagi "Rencana Tuhan pasti lebih indah" ....