Postingan

Pelaku

Aku mencari jalanku pulang, iya aku pencari.  Aku menikmati setiap jalan yang ku lewati, iya aku penikmat.  Aku memahami setiap ucapan mereka, sayangnya aku bukan pemaham yang baik. Aku melakukan semua hal sesuai kendali mereka, tapi aku bukanlah pelaku, pelaku yang selalu didambakan oleh diri sendiri. Mungkin, justru aku membenci diriku sendiri, karena menjadi pelaku atas kemauan oranglain. Tak dapat aku hindari setiap kata yang mereka lontarkan, sekalipun aku telah meminimalkan segala frekuensi dalam diri. Entah bentuk suara, ataupun sikap. Mungkin tindakan ini justru membawaku dalam hati yang dingin, tak lagi percaya, takut bersikap. Sendiri adalah pilihan, yang diharuskan. Bersama oranglain justru hanya akan memperburuk keadaan, keadaan yang aku sendiri tak mampu mengendalikan, padahal aku pelaku. Aku akan berusaha menjadi, pencari yang tahu diri dengan penuh kenikmatan. Menjadi yang mereka ingini adalah tujuanku. Menjadi apa yang oranglain ingini adalah kebutu...

Bahagia

Aku adalah penikmat kopi di malam hari, yang hangat terseduh meski tak tersentuh. Aku adalah peracik kata-kata, menjadi satu bagian indah meski tak kau indahkan. Tapi.. aku bukanlah penikmat ataupun peracik kata bahagia , yang justru melupa ketika dinikmati, dan merumit ketika teracik.  Katamu, bahagia itu sederhana , kau rasa meski tak kau miliki. Kau lihat meski tersakiti, Jadi, apakah arti bahagia sebenarnya adalah, tersakiti? yang dikemas dengan indah menjadi sesuatu yang disebut bahagia .  Katamu, bahagia itu tersurat bukan tersirat . Bagaimana bisa kau membuktikan itu bahagia, ketika wajahmu tak menyiratkan? Bahagia yang tersiratlah yang selalu tersurat. Mungkin, bahagia tak harus selalu sederhana, karena proses  menuju ke-luar biasaanlah yang tak akan menghianati tersiratnya bahagia.  Kan, ku cari apa yang menjadi bahagiaku, Kan, ku siratkan bahagiaku, Karena, proses tak pernah menghianati hasil.

Untuk Wanita Dalam Doa

Untuk wanita yang sedang menikmati malamnya, sebagai wanita yang terlelap dalam lelah.. Hari menjadi terlalu sempit untukmu, memaksamu untuk bergerak cepat dan gesit. Sesekali harus menaikan nada agar mendapat bantuan. Pagimu habis dengan kalimat "Lapar" tanpa "Terimakasih" . Siangmu terik, membuat keringat itu meluncur bebas di wajah yang sedikit demi sedikit termakan oleh usia. Senjamu menjadi sangat cepat, istirahatmu bagai suatu tambahan, bukan lagi kebutuhan. Malammu sungguh melelahkan, meski tanpa "Terimakasih"  Untuk wanita yang merindu, sebagai penyendiri kala malam.. Sebagai wanita yang merangkap dua peran, saat laki-lakimu mempertanggung jawabkan perannya sendiri. Kau di rumah, dimana peran itu kau jalankan sekaligus. Tak sedikitpun lelah tersirat di wajahmu, namun wajahmu selalu menyiratkan kerinduan, rindu akan kehangatan berdua. Keyakinanmu besar, percayamu hebat, mengucap sabar untuk diri sendiri. Untuk wanita yang tak kenal ...

Dari Hujan untuk Butirannya.

"Rencana Tuhan pasti lebih indah" Aku percaya, takdir oleh Tuhan pasti akan lebih indah daripada apa yang terbayangkan, karena akan selalu bermuara pada bahagia. Meski harus melalui jalan cerita yang keras atau deras atau malah tenang, iya aku percaya. Kita ini seperti butiran air hujan yang jatuh ke permukaan bumi, jatuh secara bersamaan, menjadi butiran yang berbeda, entah mengalir, meresap, terperangkap, atau masih mengudara, dan mengalir ke aliran yang berbeda antara kamu dan aku. Sudah sewajarnya butiran air itu mengalir, dan bertemu di satu muara yang sama. Entah butiran itu sudah melewati aliran yang deras ataupun tenang entah itu perjalananmu atau malah itu perjalananku. Mungkin sudah membeku di kutub yang berbeda antara kamu dan aku. Atau malah sudah menguap lagi. Menjadi cerita baru yang lebih indah. Bukankah, kita pernah berfikir akan dalam satu aliran dalam tenang, tetapi kita salah, ternyata lagi-lagi "Rencana Tuhan pasti lebih indah" ....

Terlalu..

Terlalu banyak yang tak bisa tersampaikan melalui ucapan, terlalu banyak yang tak ku yakini namun bisa kurasakan olehku sendiri. Mengais keyakinan demi keyakinan melalui banyak kejadian bukan hal mudah ketika semua tak bisa dipercayakan. Karena pada dasarnya Cinta itu meyakini bukan hanya merasakan, jadi apa yang kamu rasakan ketika tak meyakini perasaanmu sendiri, hanya keraguan atas diri mereka. Terlalu banyak hal yang kulihat, hingga aku tak mampu lagi membedakan mana yang harus kupercaya atau malah harus kuragukan. Bukan karena tidak mengerti teori mencinta, hanya saja ini semua tidak berjalan sesuai keinginan, tidak sesuai harapan, dan membuat harapan itu berpulang sia-sia.. Terlalu banyak ingin yang tidak sejalan senyata dengan kenyataan yang ada, memperkeras hati, menutup mata dan telinga, bertahan di ke-egoisan. Membiarkan diri terbawa oleh perasaan, yang justru membawa pada pesakitan, membiarkan ke-egoisan menguasai diri, sampai hilang kendali, sampai melupakan bagaimana ...

Aku tetap Aku

Aku adalah aku, dan akan tetap menjadi aku, meskipun tak kau minta. Kamu bukan lagi kamu, karena kamu memilih jalan yang berbeda ketika berada di persimpangan. Tanpa harus aku sarankan kamu pasti sudah melakukannya, tanpa perlu kuberi aba-aba lagi. Katamu dunia ini terlalu sempit untuk tidak saling bertegur sapa lagi, berharap agar aku bisa bertahan meski namaku tak pernah kau sebut lagi dalam sela doamu pada Tuhan. Katamu, aku harus bisa menjalani hidupku sendiri. Tanpa harus memikirkan kamu. Begitu juga kamu, yang akan memilih pergi dan tidak memikirkan perasaanku lagi, yang katamu hanya sementara. Aku adalah aku, dan akan tetap begitu, meski aku tahu bertahan dipesakitan bukanlah satu-satunya pilihan, aku bisa pergi menjadi aku yang baru, aku bisa berlari menjadi aku yang baru. Namun, Aku akan tetap aku, meskipun kamu memohon aku untuk menjadi oranglain. Maaf. Bertahanku untuk menjadi aku yang lebih baik, yang lebih akan kamu cintai nantinya. Karena aku tahu, cinta it...

Bye.

Semoga kamu baik-baik saja, Semoga kamu tidak sakit, Semooga kamu bahagia, dan, Semoga kamu tidak melupakanku seutuhnya. Cinta yang lama hadir untuk diperbarui, ya memang cinta ini tidak pernah hilang sejak saat itu, saat dimana cinta benar-benar tahu mengapa cinta harus mencinta. dan dimana, saat perasaan saling mengerti meski harus tersakiti. Namun, inilah cinta meski iya tahu seberapa cinta itu hadir tetap saja jenuh selalu menjadi salah satu alasan untuk saling meninggalkan. Menyedihkan ketika cinta itu menyerah untuk satu dan yang lain, dan ketika cinta tak lagi saling mengenal.  Aku masih mampu berharap, meski terkadang tak sebanding dengan kenyataan. Aku masih mampu menunggu, tapi itu akan terjadi ketika kau yang meminta. Mungkin memang sudah sepantasnya apa yang bukan milikku harus pergi, meski tanpa alasan yang jelas, iyakan Cinta? Dan, satu lagi. Seharusnya kita tau, orang yang pernah meninggalkan atau kehilangan tidak akan pernah merasa sama seperti dulu lag...